Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Test. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Test. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2012

Lagi - lagi, Suzuki Nex Injeksi Bisa Mencapai 82,6 km/liter



Jakarta, Automotive Blog - Suzuki Indomobil Sales (SIS) menantang wartawan untuk membuktikan langsung performa dan konsumsi bahan bakar skutik Nex Super FI (injeksi) dengan rute Bandung-Jakarta lewat Jonggol (156 km). Untuk itu, hanya diberi model membeli bensin premium Rp 10.000.

Tantangan tersebut diikuti 20 wartawan. Sebelum dilepas, panitia melakukan pegecekan dan penyegelan. Peserta start dari Hotel Aston Primera, Pasteur, Bandung, dilepas oleh Akira Itsumi, Presiden Direktur SIS dan Suzuki Indomobil Motor pada pukul 09.00 WIB. KompasOtomotif dapat jatah nomor 16.

Lalu lintas kota yang padat dan macet langsung menghadang ketika menuju Padalarang. Kesabaran dan konsistensi mengatur dan mempertahankan bukaan gas amat diperlukan untuk menjaga agar skutik tidak boros. Kelincahan Nex bermanuver menghindari kemacetan bisa diandalkan!

Luar kota
Lepas dari Padalarang, kesabaran para pengendara diuji dengan jalan berkelok dan menurun. Performa suspensi diuji dengan menaklukan tikungan berkarakter cepat. Konsentrasi peserta sempat terpecah ketika dihadapkan pada dua kondisi yang sama pentingnya, mempertahankan bukaan gas dan melibas tikungan. Tidak sedikit pula peserta yang terbuai ingin tanap gas. Hal terebut terlihat dari beberapa rekan yang sempat tertinggal saat macet mulai menyusul.

Memasuki Cianjur, kondisi jalan cenderung monoton, lurus dengan kondisi lalulintas tidak begitu ramai. Rasa jenuh dan pegal mulai melanda khususnya pergelangan tangan dan kaki. Apalagi untuk postur tinggi 170 cm ruang kaki terasa agak sempit. Maklum kami sudah berkendara sekitar 1,5 jam.

Begitu masuk daerah Jonggol, jalan mulai ada yang rusak. Cukup untuk menghilangkan rasa jenuh. Badan tergoncang ketika harus melewati jalan rusak tersebut. Setang pun harus dipegang erat!

Sempat hampir tergelincir saat menikung di jalanan agak menurun. Sebagian ruas jalan terdapat pasir yang secara kebetulan tidak terlihat saat memasuki tikungan ke kanan hampir menyerupai tapal kuda. Skutik yang ditunggangi sudah terlanjur dalam posisi menikung ala Loris Capirossi. Begitu buritan ngesot, spontan kaki kiri menyentuh aspal dan mengalami sentakan. Kendati tidak jatuh, namun sepeda motor sempat oleng.

Pesimis
Rombongan beristirahat di Jonggol sekaligus makan siang. Peserta pun membandingkan indikator bensin setelah menempuh jarak 125 km. Ada yang masih setengah lebih ada juga yang pesimis tidak bakal sampai Jakarta. Pasalnya, bensinnya tinggal seperempat. Rasa gelisah bertambah saat memasuk Mekarsari, lalu lintas kembali macet berat dan berlanjut di Cibubur, selepas pertigaan ke Wanaherang sampai Cibubur Juction.

Peserta diarahkan ke Jalan Raya Bogor dan menuju Park Hotel di Cawang lewat Cililitan. Setelah melewati Hek, lalulintas padat merayap hingga bekas terminal Cililitan. Kendati demikian semua kontestan berhasil di garis akhir tanpa kehabisan bensin.

Hasil akhir, rekan wartawan dari Semarang hanya menghabiskan bensin Premium 1,910 liter atau setara Rp 8.600. Berdasarkan jarak, Suzuki Nex Super FI yang digunakannnya mengonsumsi bensin 82,6 kpl. Sementara KompasOtomotif harus puas berada di posisi ketiga dengan hasil 68,9 kpl.


SUMBER
Reade more >>

Senin, 04 Juni 2012

"Nge-drift" dengan Toyota 86





Jakarta, Automotive Blog - Usai acara peluncuran Toyota 86 di Parkir Barat, Senayan, Jakarta, akhir pekan lalu, siangnya KompasOtomotif diberi kesempatan menjajal di trek drift yang dipersiapkan oleh Toyota Indonesia untuk unjuk kebolehan sedan sport tersebut di depan para komunitas Toyota, malamnya. Tanpa basa-basi, tawaran pun diterima dan langsung duduk di jok semi balap. Setelah menyetel kursi dan setir untuk posisi ideal, mesin diaktifkan dan deru khas boxer terdengar.

Sebelum nge-drift KompasOtomotif beradaptasi dulu dengan "hachi-roku". Saat masuk ke posisi gigi 1, kopling terasa enteng untuk ukuran mobil sport. Tuas persnelling juga mantap dipegang dan memiliki karakter jarak area perpindahan yang pendek (quick shift) ala mobil balap. Berhubung lintasannya pendek, tes performa mesin untuk berakselerasi pun terbatas. Respon saat kopling dilepas dan gas dibejek cukup terasa. Kendati hanya berjarak kurang 200 meter, putaran mesin sudah menunjukkan 6.900 pada gigi 1 dan menyisakan jarak untuk kembali menginjak rem serta memutar. Cukup mewakili performa mesin yang baik.

Ketika setir diputar dan pedal gas langsung ditekan dalam, bagian belakang spontan 'ngepot'. Ini membuktikan, dalam kondisi standar, 86 bisa diajak 'menari-nari'. Tentunya, kontrol traksi dan stabilitas harus dinon-aktifkan terlebih dahulu. Tidak cukup sampai di situ. Saat mobil diarahkan ke sekumpulan cone dengan kecepatan cukup, lantas rem tangan ditarik dan dibantu dengan putaran mesin tinggi (pedal gas ditekan), roda belakang pun spin. Tentu, pengendalian harus dijaga agar laju mobil tidak menjadi liar.

Rasanya adrenalin dipacu untuk menekan pedal gas dan mengeskplorasi kemampuan 86. Terlebih suara deru mesin yang masuk ke dalam kabin. Ternyata menurut pihak Toyota Astra Motor (TAM), ada saluran yang sengaja dibuat untuk mengirimkan suara mesin ke kabin untuk memberikan nuansa suara sporty mesin boxer bertenaga 200 PS. Lintasan sederhana ini sangat kurang untuk mengeksplorasi lebih dalam kekuatan performa dan stabilitas.

Bagi sebuah mobil sport, putaran setir terasa berat memang sudah menjadi kebiasaan. Namun 86 terasa lebih berat dibanding mobil sport lain yang pernah dicoba dengan tenaga serupa seperti Subaru WRX dan Mitsubishi Evolution X. Padahal, sistem power steering yang digunakan sudah elektrik. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa sport dari 86.



SUMBER
Reade more >>

Selasa, 29 Mei 2012

Taklukkan Jalan Pantai Sundak dan Gunung Merapi





Yogyakarta, Automotive Blog - Sebelum diluncurkan pada 7 Juni mendatang, PT Nissan Motor Indonesia memberi kesempatan kepada sekitar 40 wartawan untuk menjajal Evalia 1.5, andalan Nissan di segmen low MPV. NMC menyediakan 10 unit dari dua varian, yakni SV dan XV untuk menjalani rute Kaliurang-Bayat-Pantai Sundak dan berakhir di Candi Ratu Boko berjarak sekitar 170-an km, 24 Mei lalu.

Beragam kondisi jalan dan jenis tikungan yang dilalui sangat cocok untuk merasakan performa mesin generasi baru HR15DE dengan dual injector. Sekaligus juga merasakan kenyamanan dan kestabilan MPV baru Nissan yang suspensi belakang memakai per daun.

Harus punya tega

KompasOtomotif bersama tiga media lainnya mendapat Evalia bertransmisi manual, tapi varian termewah yang sudah dilengkapi DVD dengan layar monitor di plafon, kamera dan sensor parkir serta kunci kontak model Immobilizer.

Sebelum jalan, KompasOtmotif yang berada di belakang kemudi, coba memanfaatkan keunggulan yang dipunyai MPV ini, yakni menyetel batas maksimal putaran mesin di 2.500 rpm, idling 900, dan kecepatan maksimum 90 kpj. Dipilih segitu karena rute yang diterabas dari Kaliurang menuju peristirahatan Bayat sejauh 40 km lebih tergolong ringan, meski ada jalan tanjakan dan menurun, hanya cocok untuk menguji kestabilan.

Panel instrumen di atas terpusat pada multi information display (MID) yang menyatu dengan petunjuk putaran mesin berupa digital, pemakaian konsumsi bahan bakar, jarak tempuh, kecepatan rata-rata. Cara penyetelannya dengan menekan tombol sebelah kiri yang terletak pada indikator speedometer, lalu ke luar menu pilihan (speed, idling, timer dll).

Dengan adanya pembatasan itu, sangat membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar. Jadi, ketika putaran mesin sudah melewati batas, pada layar MID muncul tanda panah dan disampingnya ada huruf "A" berkedip-kedip menandakan gigi persneling harus dinaikkan. Begitu juga sebaliknya, ketika menghadapi jalanan menurun cukup panjang menggunakan gigi 2 sambil mengandalkan engine brake, tapi putaran mesin 3.000 rpm, tanda akan menyala (berarti naikkan ke gigi 3).

Soal mesin baru HR15DE ini, KompasOtomotif merasakan tenaganya galak mulai 2.000 rpm ke atas. Apalagi dipadu dengan rasio gigi yang pendek untuk gigi 1 dan 2, membuat Evalia jadi agresif. Hanya, bila genjotan awal dimulai dengan putaran mesin rendah (di bawah 2.000 rpm) kegalakan mesin tak terasa. Jadi, di awal itu harus punya rasa tega, terlebih bila putaran mesin menyentuh 1.800 rpm, ketika pedal gas ditekan keras, ada jedahnya.

Bodi rolling kecil
Soal kenyamanan, meski suspensi belakang menggunakan per daun, goyangan bodi tidak terlalu kuat. Gejala ini terasa saat menjalani rute dari Bayat menuju pantai Sundak yang sarat tikungan dan diselingi jalan rusak. Dan KompasOtomotif beralih jadi penumpang di baris kedua.

Mungkin ini tertolong oleh desain moncong sangat aerodinamis, sehingga memberi hambatan angin kecil. Terlebih jika keempat roda yang memakai pelek 14/165 diganti 15/175/65, goyangan dan bantingan bisa lebih baik. Walau konsumsi bahan bakar sedikit lebih boros dari yang sekarang.

Nah, ketika pulang dari Candi Ratu Roko ke Kaliurang, KompasOtomotif dapat transmisi matik. Perlakukannya harus lebih tega dari manual bila ingin melakukan akselerasi. Untuk mendapatkan tenaga awal yang baik, bisa menggunakan persneling dua, termasuk kala menghadapi jalan tanjakan. Termasuk saat melintasi jalan terjal ke Gunung Merapi untuk melakukan pemotretan, masih bisa melesat mengandalkan gigi 2. Kalau pun harus ke gigi satu, hanya sebentar untuk dapatkan akselerasi.

Hanya, ketika mengoperasikan tongkat persneling, semisal dari "P" ke "D" harus melihat petunjuk di MID sudah sesuai atau belum. Karena, posisi gigi pada tuas transmisi tidak diterangi lampu.



SUMBER
Reade more >>

Kamis, 24 Mei 2012

Ford Fiesta Sedan Mantap dengan ESP dan DHA!





Bandung, Automotive Blog - Ford Motor Indonesia (FMI) mengajak 17 media mencoba langsung Fiesta sedan dalam acara test drive Jakarta - Bandung pulang pergi kemarin (22-23/5). Peserta diberangkatkan dari kantor FMI di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Tiap mobil diisi 3 orang dan KompasOtomotif mendapat kesempatan mengemudi menuju Bandung.

Akselerasi dan stabilitas
Rombongan langsung mengarah ke gerbang tol Pondok Indah. Karena tidak mesti konvoi, mobil langsung di-bejek sekedar mengukur akselerasi. Saat melakukan kick down, putaran lebih dahulu naik lalu direspon dengan bertambahnya kecepatan tanpa hentakan.

Melaju lurus di kecepatan 120 kpj terasa stabil. Namun ketika hendak berpindah lajur atau menyusul kendaraan lain, terasa gejala agak limbung. Kondisi tersebut lebih terasa lagi pada penumpang belakang. Kendati demikian, saat masuk tol Padaleunyi, khusus antara km 80-100, banyak belokan tipe manuver cepat, gejala bodi oleng (body roll) terasa lebih besar dibanding Fiesta hatchback.

Ford melengkapi Fiesta sedan ini dengan Electronically Stability Program (ESP) untuk membantu pengemudi menstabilkan mobil saat cengkeraman ban berkurang. Untuk sedan subkompak, gternyata Fiesta pertama kali yang menggunakan. .

Untuk mengetahui keampuhannya, pada km 90 - 94 (lokasi paling banyak terjadi kecelakaan), sedan ini diajak bermanuver pada kecepatan 120 kpj. Saat masuk tikungan, pantat mobil bergerak lebih cepat (oversteer), namun ESP mengoreksinya dengan cepat.

Down Hill Assist
Teknologi lain yang disertakan adalah down hill assist (DHA), berfungsi menjaga putaran mesin atau rem mesin (engine brake) saat meluncur di turunan. Sistem dilengkapi dengan tombol di samping kanan tuas persnelling. Ketika diaktifkan, indikatornya juga muncul di panel meter. Jika kinerjanya dirasa masih kurang, posisi tombol bisa diarahkan ke L. Hasilnya, kerja rem menjadi lebih ringan.

Untuk mengetahui kinerjanya, saat perjalanan kembali ke Jakarta - banyak turunan - kami mengaktifkan fitur tersebut. Hasilnmya, pengemudi tidak harus sering menekan pedal rem untuk menguruangi kecepatan.

Fitur tersebut bisa juga digunakan ketika,utamanya saat macet. Mobil tidak akan mundur saat kaki berpindah posisi dari pedal rem ke gas. Kondisi sangat membantu, tidak perlu repot lagi mengaktifkan rem tangan.



SUMBER
Reade more >>

Kamis, 03 Mei 2012

Merasakan Mazda CX-5 dengan Skyactive-nya





Badung, Automotive Blog - Mazda Motor Indonesia (MMI) mengundang media untuk mencoba langsung teknologi SkyActiv pada CX-5 di Bali (1-3/5) sebelum peluncuran (11/5) di Jakarta. Pada hari pertama KompasOtomotif menjadi penumpang belakang pada varian Touring.

Sebagai Penumpang
Perjalanan dimulai Krobokan, setelah makan siang dan penjelasan tentang teknologi yang digunakan Mazda pada SUV ini. Target lokasi adalah kawasan Pecatu. Saat masuk ke baris kedua, ruang kaki cukup lapang, begitu pula dengan ruang kepala. Sandaran pas, tidak terlalu tegak atau rebah untuk postur 175 cm.

Selama perjalanan, ayunan suspensi terasa nyaman saat melintas permukaan jalan aspal dan bergelombang. Namun saat melewati jalan berlubang dan rusak, bantingan terasa cukup keras dan langsung karena CX-5 menggunakan ban profil tipis Toyo Proxes 225/55 R19.

Ketika melewati jalan berliku di kawasan Kampus Udayana menuju Pecatu, perut tidak terasa mulas kendati agak limbung karena gerakan peredaman suspensi yang empuk.

Sebagai Pengemudi
Pada hari kedua, saatnya berada di balik kemudi, agak sulit mencari posisi tombol start/stop di dasbor yang tersembunyi di balik setir di sebelah kiri. Posisi mengemudi dapat diatur dengan mudah hanya dengan menekan tombol untuk mengeser posisi jok. Sedangkan setir diatur secara otomatis melalui sistem tilt dan telescopic steering.

Peserta diarahkan dari hotel di Seminyak menuju Jimbaran Bali Cliff. Ketika keluar dari area parkir hotel, diperoleh tiga catatan. Pertama, ukuran spion yang besar sedikit menghalangi pandangan samping. Kedua setir terasa agak berat seperti BMW Seri 3 model E46. Terakhir untuk postur saya, kaki kiri agak mentok ketika diistirahatkan pada foot rest.

Akselerasi
Di rute perkotaan yang macet, harus bisa menjaga putaran mesin agar tidak didahului pengguna jalan lain. Lepas dari lampu merah pertigaan bandara Ngurah Rai, jalan cukup kosong, dimanfaatkan untuk mencoba kemampuan mesin 2.0-liter 4 silinder dengan teknologi Skyactiv. Ternyata, mesin dengan perbandingan kompresi 13:1, tenaga 155 PS @6.000 rpm dan torsi 200 Nm @4.000 rpm, terasa mantap mencapai 100 kpj.

Transmisi teknologi Skyactiv ternyata diarahkan untuk memberikan kenyamanan ketimbang respon. Ketika di-bejek mendadak (kick down), putaran naik dulu, setelah itu baru berakseleras, kata lain respon agak telat (mencegah hentakan).

Masuk area Jimbaran, jalanan sempit, berkelok, menanjak dan turun. Cocok untuk menguji stabilitas. Dari balik kemudi, terasa sedikit limbung akibat bodi oleng saat dipacu pada 60 kpj.

Ketika kembali ke Seminyak untuk menyaksikan matahari terbenam, kembali kami dihadapkan pada kondisi yang mulai padat. Karena mengejar waktu, saya harus melakukan beberapa aksi pindah jalur. Ternyata, Mazda CX-5 bisa melakukannya dengan luwes.



Sumber : KLIK DISINI
Reade more >>

Rabu, 02 Mei 2012

Bersama Merasakan Kemewahan All-New Camry (Bag 2)




Hibrida
Pada hari kedua diberi kesempatan mencoba Camry hibrida. KompasOtomotif duduk di belakang merasakan kenyamanan sebagai penumpang. Versi hibrida punya fasilitas lebih lengkap dibandingan bensin (tipe G).

Kedua sandaran jok belakang berlapiskan kulit, sandarannya dilengkapi dengan penyetel kemiringan sendiri-sendiri juga juga pemijat (relaxatiopn system). Untuk menyetel kemiringan sandaran jok, cukup menekan tombil yang berada di sandaran tangah atau panel yang berada di tengah kedua jok belakang yang dilapis panel kayu. Di panel ini, penumpang belakang juga bisa mengatur atau memilih “mode” audio.

Ciri khas lain dari All-New Camry Hybrid, indikator pada panel instrumennya berbeda dengan versi mesin, tidak ada tachometer. Indikator utama adalah speedometer, konsumsi bahan bakar dan mode “power” atau tenaga. Misalnya, Eco atau “EV” atau mobil dikemudikan dengan mengandalkan energi dari baterai (motor) listrik.

Sedangkan pada tongkat transmisi, selain posisi “ P, R, N dan D, tambahan lain adalah “B” yang berarti “brake”. Posisi terakhir digunakan untuk membantu pengereman saat menurun. Saat coba dioperasikan, tenaga mesin terasa “drop”.

Ciri khas lain, pada layar monitor di tengah, ditampilkan kondisi kerja sistem hibrida. Sebagai indikator pada kondisi ini, ditayangkan sistem informasi kerja sistem hibrida. Arah tenaga dari motor menuju ke as roda. Sebaliknya, begitu mobil diperlambat, atau direm, sebagaian energi ditayangkan dipindahkan ke baterai untuk disimpan.

Fitur lain
Fitur atau fasilitas yang menyertai All-Camry hibrida yang memberi kesan mewah lain adalah sistem keyless. Artinya, mesin dihidupkan atau dimatikan melalui tombol. Saat tombol buka pintu ditekan, gerakan pertama dari mobil ini adalah kaca spion yang membuka. Setelah masuk ke dalamnya, tombol start ditekan, giliran setir yang bergerak naik. Ketika mesin dimatikan, setir kembali ke bawah!

Fitur menarik lain adalah kamera mundur. Begitu, posisi gigi dipindahkan ke “P”, monitor langsung menayangkan suasana di belakang mobil. Sangat menbantu untuk pengemudi parkir.

Khusus untuk hibrida, Toyota memasang 8 speaker JBL Premium Green Edge yang menghasilkan suara yang bening. Tambahan lain, tirai (sunshade) yang dioperasikan dengan tombol. Sedangkan untuk kaca samping belakang dioperasikan secara manual.

Sedangkan di luar, Camry hibrida menggunakan lampu utama (dekat) berbeda dengan versi bensin. Pada tipe ini digunakan lampu LED proyeksi (konsumsi listrik lampu LED lebih rendah dari HID atau xenon). Sedangkan lampu jauh atau dim tetap halogen.

Konsumsi bbm
Konsumsi bahan bakar yang diperlihatkan pada mobil ini saat dicoba sangat bervariasi. Versi hibrida misalnya, 12,7 km/liter. Bahkan pada kondisi tertentu 8,7 km/liter. Setelah ditelusuri, ternyata mobil dibiarkan stasioner lama dengan AC bekerja dan tidak berada pada mode “Eco”. Sedangkan untuk mesin bensin, hasil yang diperoleh 7,8 km/liter.

Kesimpulan
Saat mencoba All-New Camry dalam waktu sangat singkat, tidak banyak yang dieksploitasi. Namun secara keseluruhan, mobil “menteri” ini memang terasa mewah dan hebat, khususnya bagi wartawan, yang umumnya bukanlah para general manajer atau pun direktur.


Sumber : KLIK DISINI
Reade more >>

Bersama Merasakan Kemewahan All-New Camry (Bag. 1)



Denpasar, Automotive Blog - Tiga minggu setelah diluncurkan, PT Toyota Astra Motor (TAM) mengajak wartawan untuk menikmati kenyamanan dan kehebatan All-New Camry. Untuk itu, 34 wartawan ibukota diboyong ke Bali untuk merasakan kehebatan terbaru sedan menengah paling laris di Indonesia ini dan merasakan selama 3 hari, yaitu dari 25-27 April lalu. Sedangkan All-New Camry yang digunakan, terdiri dari 4 unit bermesin bensin dan 5 unit hibrida.

Kendati berlangsung tiga hari, namun aktivitas lebih banyak mengikuti gaya hidup konsumen Camry, yaitu eksekutif yang mulai memegang jabatan dari General Manager sampai Direktur.

“Kita hanya mengikuti gaya hidup (life style) konsumen Camry. Kalau mau tes lebih detil, bisa nanti,” jelas Widyawati Sudigdo, General Manager Pemasaran TAM. Karena itu pula, wartawan diajak bermain golf (sekaligus berbelanja kustom), pesiar di dengan kapal bermotorukuran sedang jenis katamaran di Teluk Benoa (selkaligus mancing) dan makan malan di Banyan Tree Ju-Ma-Na, Jimbaran.

Mesin bensin
Saat tes, KompasOtomotif dikelompokan dengan rekan dari koran Sindo, Tabloid Otomotif dan Detik.com. Pada hari pertama memperoleh kesempatan merasakan All-New Camry bermesin bensin.

Kesan yang menarik saat pertama mencoba (sebagai penumpang depan), selain interior yang mewah adalah kualitas suara audio yang bening. Suara tersebut dihasilkan oleh 6 speaker Premium JBL Green Edge dan dijadikan sebagai salah satu“nilai tambah” oleh Toyota untuk menjual All-New Camry ini.

Di setir, terdapat tombol-tombol untuk mengatur audio (kiri), display informasi kendaraan dan tombol untuk mematikan atau mengaktifkan telepon. Sayang, pada unit yang dicoba ini, tombol-tombol tersebut tidak berfungsi. Setelah dikonfirmasikan ke Dadi Hendriadi, Technical Service Division TAM, disimpulkan ada soket kabel yang belum terpasang dengan baik. “Nanti coba versi hybrid,” jelas Dadi. Ternyata, tombol setelan audio pada versi ini bekerja dengan normal.

Pastinya, ruang kaki untuk penumpang depan lega. Hal yang menarik, posisi kursi dan kemiringan sandara disetel dengan menekan tombol.
KompasOtomotif baru bisa mengemudikan Camry saat menuju Banyan Tree Ju-Ma-Na, di Jimbaran dari Laguna Hotel di Nusa Dua. Kondisi jalan cukup bervariasi, mulai dari yang jelek, menanjak dan menurun.

Kesan pertama, di belakang setir, sangat mantap, suara mesin yang halus dan cukup responsif ketika pedal gas di-“bejek” untuk berakselerasi. Di samping itu perpindah gigi transmisi otomatis sangat halus. Mantap!

Saat melalui jalan berlubang dan bergelombang, kesan yang diperoleh – termasuk rekan wartawan lain sebagai penumpang – lsangat mantap dan dan menyenangkan. Kinerja suspensi sangat oke!

Saat kembali menuju hotel, KompasOtomotif kembali berada di belakang kemudi. Lampu HID menghasilkan sorotan yang sangat terang. BERSAMBUNG


Sumber : KLIK DISINI
Reade more >>

Sabtu, 28 April 2012

Sensasi Skuter Urban Vespa S 150ie



Jakarta, Automotive Blog - Saat peluncuran varian Vespa S 150ie bersamaan ultah Vespa ke-66 di Menteng, Jakarta Pusat, dua hari lalu, PT. Piaggio Indonesia memberi kesempatan kepada media untuk melakukan test ride . KompasOtomotif tidak melewatkan kesempatan ini untuk merasakan skuter yang mengusung mesin LEADER, 4 langkah silinder tunggal, 2 katup ini.

Ketika menunggangi skutik terasa nyaman dan pas dengan dimensi jok yang lebar dan tebal. Sama seperti saat menghidupkan skutik lainnya, putar kunci, tarik tuas rem depan dan tekan tombol starter. Lantas, mesin berkapasitas 149,5 cc dengan sistem pembakaran injeksinya pun menyala dan sangat terasa halus. Lalu, skuter ini pun siap untuk mengelilingi jalan ibukota dengan rute Menteng - Bundaran HI - Monas dan kembali ke tempat semula.

Tarikan awal skuter ini terasa sangat ringan sehingga mesin terdengar tetap halus. Saat bermanuver motor berdimensi panjang 1,770 mm dan lebar 705 mm ini terasa lincah dan tidak berat. Dengan lebar ban standar 110/70 - 11" di depan dan 120/70 - 10" untuk belakang, S 150ie dapat menikung dengan baik.

Lantas, yang membuat KompasOtomotif kagumi sistem suspensi depan lengan tunggal pegas helical dan peredam kejut hidrolik double-acting tunggal, serta peredam kejut dengan 4 setting adjustable di belakang. Sistem kaki-kaki tersebut bekerja dengan maksimal untuk meredam guncangan ketika melewati jalan berlubang, sehingga pengendara tetap nyaman.

Sayang, tanpa terasa perjalanan dari test ride Vespa S 150ie ini pun hampir berakhir. Namun, melalui rute singkat ini citra Vespa sebagai skuter urban masih tetap terjaga. Apa lagi Vespa S 150ie ini sudah dilengkapi sistem injeksi sehingga lebih irit dan ramah lingkungan.

Sesuai dengan slogannya "Sporty, Stylish and Sophisticated", Vespa S 150ie menghadirkan semangat muda dan sporty. Hadir dalam empat pilihan warna; Arancio Taormina (oranye), Rosso Dragon (merah), Monte Bianco (putih) dan Nero Vulcano (hitam).


Sumber : KLIK DISINI
Reade more >>

Jumat, 13 April 2012

Yamaha Soul GT: Lebih Halus dan Lincah






Sentul, Automotive Blog - Yamaha Indonesia mengajak puluhan jurnalis menjajal produk terbarunya Soul GT di Sirkuit Gokart, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/4/2012). KompasOtomotif sebagai salah satu peserta, merasakan sensasi skutik terbaru Yamaha dengan tagline "Keren, Lincah, Irit".


Karena getarannya lebih halus, lebih pede (percaya diri) mengajaknya menikung.

Vs Mio Soul Lama
Disiapkan 14 unit Soul GT untuk uji coba yang dibagi dalam dua sesi. Pertama merasakan Mio Soul lawas dan kedua Soul GT. Dengan cara ini wartawan bisa langsung merasakan perbedaannya. Setiap jurnalis diberikan kesempatan maksimal dua lap mengitari sirkuit kecil Sentul tersebut.

Setelah menunggu beberapa saat, giliran KompasOtomotif mengendarai Soul GT. Sebelumnya, sudah diberi kesempatan mencoba Mio Soul lama.

Putar kunci, tekan tuas rem depan dan tekan tombol starter. Mesin langsung menyala, sangat halus karena menggunakan sistem injeksi untuk mengabutkan dan memasuk bensin ke ruang bakar.

Sebelum masuk ke lintasan sirkuit, lebih dahulu harus bermanuver melewati jejeran kon (kerucut). Soul GT bergerak dengan mudah saat diajak bermanuver, meliuk-liuk di antara kon yang sempit. Tubuh KompasOtomotif yang tambun membuat ujung setang beberapa kali menyentuh lutut waktu belok patah.

Lebih halus
Di sirkuit, grip gas langsung diputar mencapai kecepatan 50 kpj pada speedometer. Masuk ke tikungan kanan pertama, Soul GT enak dikendalikan pada kecepatan sedang. "Karena getarannya lebih halus, lebih pede (percaya diri) mengajaknya menikung," ujar Wahyu Sibarani, salah satu jurnalis harian nasional.

Selanjutnya gas dibuka lebih besar. Akselerasi Soul GT ternytata tak terpaut jauh dari model lawas. Namun untuk pengendalian (handling), dirasakan perbedaan cukup besar. Beberapa tikungan tajam dilahap dengan mudah.

Meski cuma mendapat kesempatan 5 menit, disimpulkan, Soul GT unggul untuk performa mesin dan kelincahan. Posisi duduk pengendara juga lebih ergonomis sehingga cocok untuk komuter dengan perjalanan menengah.

Dengan harga Rp13,9 juta, Yamaha Soul GT cukup kompetitif dan menjadi alternatif baru, khususnya pria macho!



Sumber : KLIK DISINI
Reade more >>